JAKARTA (trijaya.co) – Keterlibatan berbagai pihak memberikan perspektif yang lebih luas bagi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dalam mengevaluasi layanan.
Untuk itu, Perpusnas membuka ruang bagi akademisi, organisasi profesi, komunitas, dan media untuk menyampaikan masukan guna mewujudkan layanan yang transparan, adaptif, dan berorientasi bagi kebutuhan pemustaka melalui Forum Konsultasi Publik (FKP).
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Suharyanto menjelaskan, salah satu fokus pembahasan dalam FKP adalah penegasan cetak biru peta proses layanan (service blueprint) untuk memastikan alur kerja yang semakin transparan, efektif, dan adaptif menghadapi dinamika zaman.
“Selain itu, Perpusnas juga terus mengembangkan ruang-ruang kreativitas melalui berbagai kegiatan antara lain kelas literasi, pameran, teater, hingga pemutaran sinema yang melibatkan pemustaka secara aktif,” tuturnya pada kegiatan Forum Konsultasi Publik (FKP), Selasa (3/11/2026).
Suharyanto menegaskan bahwa masukan dari berbagai elemen masyarakat merupakan kompas utama perbaikan Perpusnas ke depan.
“Suara para pemustaka, pakar, akademisi, organisasi profesi, komunitas, dan media adalah kompas utama penentu arah kebijakan, apa yang harus kami lakukan di tahun-tahun mendatang,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa lembaga ini harus terus memosisikan diri sebagai pusat lahirnya pengetahuan baru.
“Perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat menyimpan buku tetapi menjadi ruang interaksi intelektual, di mana gagasan-gagasan besar, inovasi dan literasi tumbuh untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” bebernya.
Mengenai tantangan era modern, Suharyanto mengakui perlunya keterbukaan dalam menyikapi perubahan.
“Hari ini, tantangan layanan perpustakaan begitu berat, arus informasi digital bergerak dalam hitungan detik dan standar serta ekspektasi masyarakat terhadap layanan terus meningkat,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, perwakilan media menyuarakan penguatan saluran komunikasi kelembagaan.
“Selain itu, Perpusnas perlu mengoptimalkan berbagai kanal komunikasi, baik melalui website, media sosial resmi, grup WhatsApp, iklan, aktivitas komunitas, maupun kolaborasi dengan media,” kata Deputy Editor in Chief Tutur Media Digital, Gaib Maruto Sigit.
Masukan teknis juga datang dari Ombudsman RI, akademisi, dan pemustaka yang menyarankan penyelarasan standar pelayanan, pengujian keandalan situs (UI/UX), hingga penataan alur lokasi layanan yang lebih ramah bagi pengunjung pemula.






