JAKARTA (trijaya.co) – Gerak yang lembut namun penuh makna, iringan gamelan yang harmonis, serta tata busana yang khas merupakan bagian dari kekayaan budaya Jawa yang patut dijaga dan dilestarikan. Komunitas tari Purwakanthi mewujudkan semangat tersebut melalui pementasan tujuh tarian Jawa klasik di Jakarta.
Pembina Purwakanthi, Dani Sarwono, menekankan pentingnya pertunjukan ini dalam membangun apresiasi terhadap seni tradisi.
“Melalui pertunjukan pada hari ini, kita tidak hanya menikmati keindahan sebuah tarian, tetapi juga diajak untuk mengenal dan menghargai warisan budaya bangsa,” ujarnya.
Di bawah bimbingan Pelatih Tari Agus Sukardi, puluhan penari memukau penonton lewat tujuh tarian klasik, yaitu Srimpi Ludira Madu, Gambyong Retna Kusuma, Golek Manis, Gambyong Mudhatama, Retna Pamudya, Adaninggar Kelaswara, dan Bedhaya Sukoharjo.
Founder Purwakanthi, Yoesi Ariyani, menjelaskan bahwa pementasan kali ini mengusung tema Prasādha Hambeksa Abhirāma.
“Tema ini lahir dari buah gagasan terbaik dari anggota Purwakanthi. Prasādha berarti anugerah atau kemuliaan. Hambeksa berarti menari. Abhirāma berarti indah, memesona, dan menenteramkan hati,” urainya.
Yoesi menambahkan, tema tersebut merupakan simbol perayaan keindahan budaya dan semangat kebersamaan.
“Sebuah perayaan atas keindahan budaya, kebersamaan, dan semangat melestarikan tari tradisi, serta menjadi semangat untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang indah, berkesan, dan mengangkat keluhuran budaya Jawa,” tambahnya.
Pementasan ini turut menghadirkan tiga pakar tari Jawa dari Universitas Seni Indonesia (ISI) Surakarta sebagai pengulas, yakni Darmasti, Wasi Bantolo, dan Daryono. Wasi Bantolo mengaku terkesan dengan pementasan di Jakarta ini dan berpesan agar penari selalu menikmati setiap gerakan. Sementara Daryono menyoroti pentingnya adeg-adeg atau tumpuan kaki yang kuat.
“Menurut Mangkunegoro VII, menari itu seperti duduk di kursi yang keras. Artinya badan berdiri dengan Posisi tubuh yang sangat tegak, kokoh, dan bertumpu rendah (mendak),” paparnya.
Sebelum pementasan, Purwakanthi juga menyelenggarakan Workshop Gerak Tari Putri Gaya Surakarta yang membawakan materi tari dasar Rantaya Putri dan rangkaian gerak Sekaran Ronce. Darmasti menerangkan filosofi mendalam di balik tarian dasar tersebut.
“Dari duduk, jengkeng, hingga berdiri, Filosofinya, sama seperti anak bayi dari baru lahir sampai merangkak sedikit sedikit sampai bisa berdiri. Sirkulasinya manusia itu kan dari lahir, sampai kembali lagi (pada Sang Pencipta),” terangnya.
Darmasti pun mengingatkan pentingnya ketekunan dan penjiwaan karakter dalam menari.
“Menari yang baik itu dengan hitungan atau tidak dengan hitungan, sudah mengalir, menjiwai secara otomatis. Kita nari itu gerak, harus mengetahui cerita di balik tarian, harus latihan,” pesannya. “Yang sudah lima tahun itu beda hasilnya. Untuk anak-anak sekarang, tidak seperti pisang yang dikarbit langsung mateng. Sehingga tidak bisa dilihat, karakternya tidak muncul,” sambungnya.
Ia mencontohkan bagaimana seorang penari harus mampu meleburkan ego demi menjiwai peran tokoh yang dibawakan.
“Misalkan saya merasa tidak bisa seperti Srikandi itu, ya harus bisa. Juga misalnya ketika saya harus menjadi Sinta, saya harus menurunkan semua ego saya. Harus bisa menjadi orang lain,” pungkasnya seraya mengajak generasi muda untuk aktif berpartisipasi dalam budaya tari Jawa.






